Wednesday, February 10, 2010

Peluk

ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan suatu tanya, mengapa aku melakukan semua ini?


keanehan lain menyusul, yakni jawaban itu muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir:memang ini jalannya. itukah yang dinamakan firasat? menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? aku menyayangimu seperti aku menyayangi diriku sendiri. bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?


barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.

sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. namun tak sepatah kata pun keluar. aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. namun bungkusan udara ini memberangkus mulut kita berdua.

mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini? saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bija, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar? kemampuan kita berkata-kata menguap. kemampuan melucuku lenyap. kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita bertahun-tahun. aku ingin bilang, bebarengan dengan makin pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.

pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. tak mungkin ku lupa caramu memandangku, dan tak mungkin ku lupa bagaimana semua ini bermula. aneh. pada saat hendak berbalik dan menutup pintu, mendadak ruang yang kita tinggalkan memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana.

tanganmu bergerak bimbang seperti ingin meraih tanganku, tapi kau urungkan niat itu. dua manusia yang sudah bercinta bertahun-tahun dan merasakan setiap jengkal kulit masing-masing, mendadak enggan untuk bersentuhan.

"habis ini lalu apa? kamu sendirian. aku sendirian. buat apa? kenapa kita tidak berdua lagi saja?"

suaramu pertama dalam setengaj jam terakhir.

mulutku refleks membuka, ingin menjawab. tapi tak ada bunyi keluar selain tiupan karbondioksida. aku tak tahu jawabannya. aku tidak tahu lantas setelah ini terjadi apa. aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang harus kembali berjalan sendiri-sendiri.


namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. kau tidak layak untuk itu. seseorang mestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

"apa artinya cinta yang tak lagi sama, yang kamu sebut-sebut sejak tadi itu? memang cinta itu ada berapa macam?" tanyamu dengan nada meninggi. air mata yang tadi sudah reda tampak siap-siap melancarkan serangan lanjutan. entah berapa gelontor lagi bakal tiba. mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan katalog produk.

aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. kau harus bertanya langsung pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan mengucap: "cukup". dia yang berkata: "aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah menjadi jalan lurus. teruskan maka aku mati, karena takdiku adalah jatuh. bukan berjalan di di setapak datar apalagi mendaki."

hati adalah air, lantas aku menyimpulkan. baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. ada gravitasi yang secara ilmiah menggiringnya. dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. berkali-kali. namun akanla hidup membawa aliran itu  ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. siapa yang mengatur itu? aku pun tak tahu. barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.

aku ingin mengalir. hatiku belum ingin mati. aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.

jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau pengap. kendati ku sayang kamu lebih dari siapapun yang kutahu. kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. aku aman. nemun aku meronta kekeringan. dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. lebih dari apapun.

"kamu akan menyesal..." gumammu lagi.

mungkin. kita tak mungkin tahu.

"enam tahun. kita akan buang enam tahun itu begitu saja?" retorikal dan getir, kamu bertanya.

kamu bukan tisu sekali pakai. kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. otakku menyimpan dan merekam kamu, kita, dan eman tahun ini. hatitidak pernah menyimpan apa-apa. ia menyalurkan segalanya. mengalir, hanya mengalir. namun kata-kata membeku di ujung mulutku seperti stalaktit dan stalagmit. tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.

"ngomong dong!" tiba-tiba suaramu mendadak murka.

bentakanmu seperti aba-aba perwira yang menggerakkan kedua tanganku untuk tahu-tahu merengkuhmu. refleks yang tak kusangka akan muncul.

tubuhmu berontak. kurasakan amarahmu, sakitmu. kupererat rengkuhanku. tanganmu meronta, berusaha melepaskan diri. wajahmu kutarik menjauh. segala macam cara kau kerahkan untuk bebas dari pelukanku. namun aku bertahan.


rasakan, bisikku dalam hati. panas tubuh kita berdua mencairkan apa yang sudah beku bertahun-tahun. rasakan betapa lamanya kita terlelap dan membiarkan aliran itu padam begitu terbiasa kita memandangi taring-taring es hingga menjadi layaknya aksesori ruangan, padahal kita sudah mau mati kedinginan,. kamu tak layak didera. kita tak layak disiksa.

berangsur tubuhmu tenang. otot-ototmu yang tegang mulai melemas, lelah meronta, dan mulai lunglai pasrah dalam pelukanku. kau mulai menangis. aku mulai menangis. lenganmu perlahan mulai mendaki dan balik mendekapku. kita resmi berpelukan.

cukup lama kita terpaut hingga kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir ke dalam darah kita masing-masing. hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. inilah keindahan yang ku maksud, kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. rasakan semua, demikian pinta sang hati. amarah atau asmara. kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. bening. apa adanya.

hati-hati lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. aku tahu aku tekah dimengerti, meski sekali saja pelukanku.

aliran ini memecah indah. meski aku berbalik pergi

dan tak kembali.


Dewi lestari-Rectoverso(2008:54-66)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home